Sabtu, 03 Desember 2011

MAKALAH PENILAIAN STATUS GIZI (Penilaian Secara langsung/ Pengukuran Antropometri)

MAKALAH
PENILAIAN STATUS GIZI
(Penilaian Secara langsung/ Pengukuran Antropometri)




Oleh:
Hendri Haryadi
0810104012
Kesehatan Masyarakat

Dosen Pembimbing:
Marni Handayani, SiT, M.Kes


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH
PADANG
2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul  Pengelolaan sampah.
Ucapan terimakasih kepada Marni Handayani, SiT, M.Kes selaku dosen pembimbing mata kuliah ini dan berbagai pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan saran, kritik dan tanggapan untuk kesempurnaan makalah ini dan juga untuk menambah pemahaman terhadap topic yang di bahas.
Akhir kata semoga makalah ini bermamfaat bagi semua.

                                                                                                Penulis


DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latarbbelakang
B.     Tujuan penilaian status Gizi
BAB II PEMBAHASAN
BAB III KESIMMPULAN
DAFTAR  ISI


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latarbelakang.
Hal yang paling penting dalam kehidupan manusia adalah meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna mencegah terjadinya mallnutrisi (Gizi salah) dan resiko untuk menjadi gizi kurang. Status gizi menjadi penting karena merupakan salah satu factor resiko untuk terjadi kesakitan atau kematian.  Status gizi yang baik pada seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemmampuan dalamproses pemulihan.
Peran dan kedudukan penilaian status gizi (PSG) didalam ilmu gizi adalah untuk mengetahui status gizi, yaitu ada tidaknya malnutrisi pada individu dan masyarakat. PSG adalah interprestasi dari data yang dikumpulakan dengan menggunakan berbagai merode untuk mengidentifikasi populasi atau individu ang beresiko atau dengan status gizi kurang/ buruk. Metode PSG ini dibagi dalam tiga kelompok, Yaitu kelompok pertama: metode secara langsung yang terdiri dari  penilaia dengan melihat tanda klinis, tes laboratorium,  metode biofisik, dan antropometri. Kelompok kedua: prnilaian dengan melihat statistic kesehatan yang biasa disebut dengan  PSG tidak langsung karenatidak menilai individu secara langsung. Kelompok ketiga: penilaian dengan melihat variable ekologi.
Data penilaian status gizi dapat dikumpulkan dengan bebagai cara. Pengumpulan data ini  akan menjadi penting kedudukannya dalam PSg karena akan sangat mempengaruhi hasil yang didapat yang akhirnya akan mempengaruhi juga informasi yang disampaikan.
B.     Tujuan Penilaian Status Gizi.
Penialaian status gizi bertujuan untuk:
1.      Menberikan gambaran secara umum mengenai metode penilaian status gizi;
2.      Menberikan penjelasan mengenai keuntungan dan kelebihan dari metoda – metoda yang digunakan;
3.      Memberikan ganbaran singakat mengenai pengumpulan data, perencanaan, dan implementasi untuk penilaian status gizi.
BAB II
PEMBAHASAN
Penilaian Status Gizi Secara Langsung/ Pengukuran Antropometri.
Pengkuran Antropometri adalah pengukuran terhadap dimensi tubuh dab komposisi tubuh. Ada beberapa pengukuran antropometri utama. Untuk jelasnya dapat dilihat pada table berikut.
Pengukuran
Komponen
Jaringan utama yang diukur
Stature/ Tinggi badan
Kepala, tulang belakang, tulang punggung, dan kaki.
Tulang
Berat badan.
Seluruh Tubuh.
Seluruh jaringan, khususnya lemak, otot, tulang tulang dan air
Lingkaran lengan
Lemak bawah kulit
Otot(secara teknik lebih sedikit digunakan di Negara maju)

Otot, tulang
Lemak (Lebih sering digunakan secara teknik di Negara maju)
Lipatan lemak
Lemak bawah kulit, kulit
lemak

Antropometri adalah pengukuran yang paling sering digunakan sebagai metode PSg secara langsung untuk menilai dua masalah gizi, yaitu:
1.      Kurang energy protein (KEP)
2.      Obbesitas pada semua kelompok umur.


Macam – macam pengukuran antropometri yang bias digunakan untuk melihat pertumbuhan adalah sebagai berikut:
a.       Masaa tubuh.
Berat badan adalah pengururab antropometri yang paling sering digunakan walaupun sering terjadi kesalahan dalam pengukuran.
1)      Berat badan.
Berat badan mencerminkan jumlah protein, lemak, air, dan massa mineral tulang. Pada orang dewasa terdapat peningkatan jumlah lemak sehubungan dengan umur dan terjadi penurunan protein otot. Berat badan sewaktu lahir dapat digunakan sebagai indicator status gizi bayi dengan cut off point <2.500 gram dikatakan sebagai bayi BBLR. Untuk menilai status gizi biasanya berat badan duhubungkan dengan pengukuran lain, seperti umur dan tinggi badan.

b.      Pengukuran Linear (Panjang)
Dasar pengukuran linear adalah tinggi (pamjang) atau stature dan merefleksikan pertumbuhan skeletal. Pengukuran linear lainnya seperti tulang bias digunakan untuk tujuan tertentu. Misalnya panjang lengan atas atau kaki.
1.      Tinggi badan,
Pengukuran tinggi badab seseorang pada prinsifnya adalah mengukur jaringan tulang skeletal yang terdiri dari kaki, punggung, tulang belakang dan tulang tengkorak. Penilaian status gizi pada umumnya hanya mengukur total tinggi (Atau panjang) yang diukur secara rutin.
Tinggi badan yang dihubungkan dengan umur dapat digunaka sebagai indicator status gizi masa lalu.
2.      Panjang badan.
Panjang badan dilakukan pada balita yang berumur kurang dari dua tahun atau kurang dari tiga tahun yang sukar untuk bediri pada waktu pengumpulan data tinggi badan.




3.      Lingkar kepala.
Pengukuran lingkar kepala biasanya digunakan pada kedokteran anak yang digunakan untuk mendeteksi kelainan seperti hydrochepalus (ukuran kepala besar) atau microcephaly (ukuran kepala kecil). Untuk melihat pertumbuhhan kepala balita dapat digunakan grafik Nellhaus.
4.      Lingkaran dada.
Pertumbuhan dada pesat anak sampai berumur tiga tahun sehingga bias digunakan pada anak yang berumur 2 – 3 tahun.  Rasio lingkar dada dan kepala dapat digunakan sebagai indicator KEP pada balita.  Setelah umur ini lingkaran kepala tumbuh lebih lambat dari pada lingkaran dada pada anak yang Kep  terjadi pertumbuhan dada yang lambat sehihingga rrasio lingkaran kepala dan dada < 1.
5.      Lingkaran lengan atas.
Lingkaran lengan atas (LILA) biasa digunakan pada abalita serta wanita usia subur Pengukuran LILA dipilih karena relatif mudah, cepat, Harga alat murah, tidak memerlukan data umur untuk balita yang kadang kala susah mendapatka data umur yang tepat. Bila mencerminkan cadangan energy sengga pengukuran ini papat mencerminkan status KEP (kurang energy dan protein) pada balita atu KEK (kurang energy kronik) pada ibu WUS dan ibu hamil. Pengukuran LILA pada WUS dan ibu hamil adalah untuk mendeteksi resiko terjadinya kejadiaa bayi dengan BBLR (Berat badan lahir rendah). Cut off point dengan balita yang menderita KEP adalah < 12,5 cm sedangkan resiko KEK dan WUS dan bumil adalah < 23,5 cm.
6.      Tinggi Lutut.
Tinggi lutut erat kaitannya dengan tinggi badan sehingga data tinggi badan didapatkan dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri atau manula. Pada manula digunakan tinggi lutut karna manula telah terjadi penurunan masa tulang yang ,menyebabkan bungkuk sehingga sukar untuk mendapatkan data tinggi badan yang akurat. Untuk mendapatkan data tinggi badan dari berat badan dapat menggunakan Formula atau nomogam bagi orang yang berusia lebih dari 59 tahun. Untuk nmendapatkan data tinggi daban dari berat badan dapat menggunakan formula berikut ini:
Pria      : (2,02 x tinggi  lutut(cm)) – (0,04 x umur (tahun)) + 64.19
Wanita : (1,83 x tinggi lutu (cm)) – (0,04 x umur (tahun)) + 84.88

c.       Koposisintubuh
Utot dan lemak merupakan jaringan lunak yang bervariasi pada penderita KEP. Antropometri jaringan dapat dilakukan pada jaringan tersebut untuk melnilai status gizi di masyarakat.
1.      Lemak subkutan (subcutaneousfat)
Penilaian koposisi  tubuh termasud untuk mendapatkan informasi mengenai jumlah dan distribusi lemak dapat dilakukan dengan beberapa metode mulai dari yang paling sulit dilakukan sampai dengan metode yang relative mudah untuk digunakan. Berikut ini adalah metode – metode yang biasa digunakan untuk menilai komposisi tubuh mulai dari yang paling sulit sampai yang .aling mudah.
a)      Ultrasonik;
b)      Densitometry (melalui  penempatan air pada densitometer atau underwater weighting);
c)      Teknik isotopdilution;
d)     Nethodaradiological;
e)      Total electrical body conduction (TOBEC);
f)       Antopometri (pengukuran berbagai tebal lemak menggunakan kaliper).
Beberapa pengukuran tebal lemak dengan menggunakan caliper:
a)      Penguran triceps;
b)      Pengukuran bisep;
c)      Pengukuran subprailiak;
d)     Penguran subskapular.
A.    Indeks Antropometri.
Pengertian indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa perameter. Indeks antropometri bias merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubugkan dengan umur.

Beberapa indeks antropometri adalah sebagai berikut.
BB/U (Berat badan terhadap Umur)
·         Indikator status gizi kurang saat sekarang.
·         Sensitif terhadap perubahan kecil.
·         Kadang umur secara akurat sulut didapat
·         Growth monitoring
·         Pengukuran yang berulang dapt mendeteksi growth failure karena infeksi atau KEP
TB/U (Tinggi badan terhadap umur)
·         Inndikator status gizi masa lalu
·         Indikator kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa
·         Kadang umur secara akurat sulit didapat
BB/TB (Berat badan terhadap tinggi badan)
·         Mengetahui proporsi badan (gemuk, norma. kurus)
·         Indikator status gizi saat ini (current nutrition status)
·         Umut tidak perlu diketahui.
LILA/U (lingkaran lengan atas terhadap umur)
·         Dapat mengidetifikasi KEP pada balita
·         Tidak memerlukann data umur yang kadang sulit
·         Dapat digunakan pada saat emergency
·         Menbutuhkan alat ukur yang murah
·         Pengukuran cepat.
B.     Baku Acuan (Data reference)
Ada dua jenis baku acuan, yaitu local dan inter nasional. Tewrdapat beberapa baku aciuan internasional, seperti tanner, Harvard, NCHS. Indonesia menggunakan baku acuan internasional WHO/ NCHS. WHO telah menganjurkan pemakaian NCHS di dunia.
Jelliffe (1989) merangkum penggunaan bakua acuan yang digunakan saat ini dan sebelumnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.

Indeks
Sekarang
Sebelumnya
BB/TB untuk  anak


Lingkatan lengan atas untuk anak

BB/TB Untuk orang dewasa

Lingkaran lengan atas untuk orang dewasa
NCHS (Hamil et.al 1979)


NCHS (1977)


Frisancho (1984)

Frasancho (1981)
Boston (harvatd) (Stuart and Maredith 1974)

Wolanski (1966, Pers Commun)

Mertopolitan life Insurance (1959)
Jelliffe (1966)

Penilaian status gizi dengan menggunakan metoda antropometri ini memiliki kelebihan dan kekurangan , Yang dapat dilihat pada  table berikut:

Kelebihan
Kekurangan
1.      Relatif murah
2.      Cepat, sehingga dapat dilakukan pada populasi yang besar
3.      Objektif
4.      Gradable, Dapat diranking apakah ringan, sedang dan berat.
5.      Tidak menimbulkan sakit pada responden
1.      Membutuhkan data referensi yang relevan
2.      Kesalahan yang muncul seperti kesalahan pada alat (belum dikatabrasil). Kesalahan pada observer (kesalahan pengukuran. Pembacaan, pencatatan)
3.      Hanya mendapatkan data pertumbuhan, obesitas, malnutrisi karena kurang energy dan protein, tidak dapat memperoleh informasi karena defisiensi zat gizi mikro.

BAB III
KESIMPULAN
1.      Penilaian status gizi bias dilakukan  dengan berbagai metoda, tergantung pada tujuan kegiatan.
2.      Pengumpulan data untuk menilai status gizi bias dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari tujuan dan dana yang tersedia.
3.      Perencanaan harus dilakukan sebulum penilaian status gizi dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.


 DAFTAR PUSTAKA
Gibson S. R, 1990. Principles of Nutritional Asessment. New York: Oxford University Press.
                  , 1993. Nutritional Asessment, A Laboratory Maniual. New York: Oxford University Press.
Jelliffe, D. B, 1989. Community Nutritional Asessment. New York: Oxford University Press.
WHO Technical Report Series, 1995. Physical Status: The Use and Interpretion of                                                                                                                              anthropometry. Geneva: WHO

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar